LOGO KAMI

LOGO KAMI

Laman

Rabu, 20 Maret 2013

Mengalami Salib Tanpa Alasan Oleh : Fr. Ratno*

 

imagePernahkah anda mendengar pepatah yang berbunyi “ada uang abang di sayang tak ada uang abang ditendang.” Sepintas syair pepatah tersebut melukiskan tentang sang wanita yang hanya memberi kasih sayangnya kepada sang pria jika sang pria mampu untuk memberikan uang kepadanya. Uang menjadi amat penting bagi sang wanita, sebab baginya cinta itu hanya terungkap dalam kesiapan sang pria untuk memberikan yang menjadi kebutuhan sang wanita. Ya, uang menjadi salah satu hal yang amat penting dalam hidup ini. Bahkan banyak orang yang berprinsip bahwa segala sesuatu dapat diatur dengan uang. Benarkah demikian? Bagaimana dengan iman kita pada Yesus Kristus, apakah kita mengimani Yesus yang tersalib itu karena semata-mata alasan uang?

Dalam kehidupan sehari-hari kita senantiasa membutuhkan uang. Uang menjadi amat penting bagi kita. Kita pun senantiasa berusaha untuk melakukan segala sesuatu yang kiranya dapat memberikan uang bagi kita. Memang kita tidak dapat melepaskan kehidupan ini tanpa uang, akan tetapi jika kita melihat realitas hidup ini tidaklah segala sesuatunya diatur oleh uang. Bahkan kehidupan kitapun didunia ini bisa dikatakan bukan berasal dari uang. Artinya ketika kita memperoleh nafas kehidupan ini kita tidak menerimanya setelah kita pertama-tama memberikan uang atau sebaliknya kita diberi uang dulu baru kita mau menerima nafas kehidupan. Bahkan dengan segala kehidupan yang kita peroleh dengan segala kelebihan dan kekurangan yang kita miliki bukanlah karena uang atau sebaliknya diberi balasan dengan uang. Ibaratnya kita dapat mengatakan bahwa uang memang penting tetapi uang bukanlah segala-galanya. Sebab uang hanyalah hal yang kita perlukan demi memenuhi kebutuhan materi yang kita butuhkan didunia ini.

Sebagai orang kristen, kita percaya bahwa dasar dan panggilan iman kita menjadi orang kristen ialah berasal dari Yesus. Yesus yang telah memanggil kita sehingga kita layak menjadi sahabatNya. Seiring dengan itu juga, panggilan Yesus tersebut telah termaktub kepada kita sejak kita dengan secara sadar mau dan tahu untuk menerima Baptisan. Dengan Baptisan kita juga telah ambil bagian secara nyata dalam tugas dan panggilan kita sebagai seorang anak –anak Allah, dan mau memanggul salib kita sendiri. Maka panggilan dan iman kita pun pada Yesus Kristus haruslah terwujud dalam kehidupan kita sendiri. Dalam keseharian hidup kita diajak untuk mau mewujudkan nilai-nilai iman kita sendiri. Iman yang berakar dan bersumber pada Yesus Kristus. Dengan itu, ditandaskan bahwa keberiman kita dan panggilan kita pada iman akan Yesus Kristus mesti menjadi hal utama dan bukan tergantikan dengan perihal yang lain, seperti uang. Sebab perihal iman tidak hanya menyangkut kebutuhan materi atau hal dunia saja tetapi sebagai wujud akan tanggungjawab kita sebagai bagian dari keselamatan yang telah diperjuangkan oleh Yesus yang tersalib. Lalu bagaimanakah kita dapat mewujudkan salib dalam kehidupan kita sekarang ini?

Kehidupan kita saat ini memang dapat dikatakan tidak terlepas dari kebutuhan uang bahkan jika kita mau lebih dalam lagi, kita dapat mengatakan bahwa selama kita masi berpijak didunia ini kita senantiasa membutuhkan uang. Sebab kebutuhan yang senantiasa menjadi tuntutan bagi diri kita mesti beralaskan uang. Uang menjadi salah satu perihal yang kita butuhkan didunia ini. Tanpa uang orang tidak dapat memenuhi kebutuhan hidupnya, atau dengan kata lain tanpa uang orang tidak dapat melanjutkan kelangsungan hidupnya. Demikian juga dengan kebutuhan uang kita juga senantiasa membutuhkan perihal pengalaman salib. Pengalaman salib mestilah kita alami, sebab sebagai orang kristen yang sejati kita mesti mau dan siap untuk memikul salib, tanpa harus beralaskan apapun. Sebab sejak kita dibabtis kita dengan tanpa alasan apaun telah dijadikan Allah sebagai anak-anakNya. Dengan demikian kitapun tanpa beralasan uang, siap untuk menerima segala pengalaman salib dan bila harus bertentangan dengan perihal yang paling penting dikehidupan kita saat ini pun, haruslah kita utamakan salib. Yesus pun sejak lahirnya siap menentang segala kelicikan para pemimpin Yahudi demi mengutamakan keselamtan semua orang. Maka kita sebagai pengikutnya mesti siap untuk meneladani kesetian yang ada pada Yesus dan mau menerima salib kita sendiri.

* Penulis adalah calon imam Keuskupan Padang, Tingkat IV

Kualitas Iman Tergantung Pada Keluarga Oleh : Fr. Virgo Barutu

 

clip_image002Dalam keluarga saya dapat hidup dalam doa, pengorbanan, kesetiaan dan cinta kasih untuk Tuhan dan sesama sehingga dapat menumbuhkan iman akan Kristus.

Untuk mewahyukan Diri-Nya kepada kita dengan lebih penuh dan lebih lengkap, maka Allah bersabda kepada manusia dengan menggunakan keluarga sebagai sarananya. Gereja selalu menghormati keluarga sebagai Gereja kecil dalam memelihara dan menjaga iman yang ada di dalamnya. Di dalam keluarga, Gereja menemukan kekuatan dan dukungan iman yang dapat menuntun setiap keluarga beriman kepada Kristus.

Kebahagiaan dalam berkeluarga adalah dambaan setiap orang di zaman ini, dari usia yang muda sampai pada yang tua. Semua kegiatan ditujukan untuk memperoleh kebahagiaan dalam berkeluarga, mulai dari sekolah, bekerja, berdoa sampai dengan kegiatan sosial berbau pelayanan. Kebahagiaan berkeluarga adalah magnet yang menarik bagi kehidupan manusia. Meskipun begitu tidak berarti semua manusia dapat menemukannya. Ternyata masih banyak orang yang belum menemukan kebahagiaan yang sempurna dalam berkeluarga. Buktinya banyak rumah sakit bagi orang yang mengalami gangguan jiwa dan yang stress, depresi di mana-mana dan tindakan kekerasan dalam keluarga (KDRT). Untuk menemukan kebahagiaan tersebut dalam berkeluarga, salah satu yang paling penting untuk kita miliki adalah iman.

Bagaimana kualitas iman yang kita miliki dalam keluarga. Apakah keluarga kita turut ikut dalam pemeliharaan iman sehingga kita dapat memberikan diri seutuhnya kepada Allah. Kita memahami benar bahwa pengalaman keluarga akan cinta kasih yang berasal dari Allah merupakan ruang untuk mengembangkan spiritualitas keluarga, yaitu pilihan hidup untuk memenuhi panggilan kepada kekudusan seperti pola keluarga kudus di Nazaret. Di dalamnya Kristus menjadi pusat hidup. Spiritualitas keluarga yang berpusat pada Kristus hendaknya dikuatkan terus menerus dalam kegiatan rohani di keluarga seperti pergi bersama ke gereja, doa bersama saat makan, tidur maupun acara rohani lainnya. Kegiatan rohani yang paling mudah dilakukan adalah doa. Dengan doa kita dapat mengalami perjumpaan dengan Kristus melalui permohonan-permohonan.

Doa yang harus menjadi acuan hidup berkeluarga bagi kita adalah doa yang diajarkan Kristus kepada kita, yang dikenal dengan Bapa Kami (Mat 6:5–15//Luk 11:2–4) memuat pokok-pokok spiritualitas hidup berkeluarga. Orang tua menjadi guru doa dan sekaligus saksi nyata bagi anak-anaknya, contohnya adalah saya sendiri. Saya bersyukur karena saya memiliki orang tua yang memberi dan memelihara iman kami anak-anaknya. Kami selalu diajak untuk pergi ke gereja, doa bersama saat makan, ikut dalam kegiatan gereja dan lain-lain. Secara khusus saya sebagai anak pertama diajarkan untuk memberi contoh yang baik bagi adik agar mampu mengenal Gereja lebih dekat, misalnya saja ikut sebagai anggota mesdinar. Bagi saya dengan mengenal Gereja, dengan sendirinya akan menumbuhkan iman akan Kristus.

Keluarga menjadi “komunitas mistik”

Setiap keluarga katolik sebaiknya dijadikan sebuah “komunitas mistik”. Mistik berarti akrab dengan Allah, memiliki hubungan dengan Sang Pencipta melalui sikap hidup yang baik dan benar. Keluarga katolik dapat dinilai sebagai komunitas mistik bila keluarga itu akrab atau sangat dekat dengan Allah, keluarga adalah tempat pertama untuk membangun keakraban dengan Allah walaupun masyarakat luas di sekitarnya justru cenderung menjauh dari Allah. Iman mereka yang menjadikan semua anggota keluarga katolik dipanggil dan diutus untuk mengusahakan, memelihara, dan meningkatkan persahabatan dengan Bapa melalui perantaraan Kristus dan dengan bantuan Roh Kudus.

Karena itu, setiap keluarga harus berusaha mengajarkan anak-anaknya untuk terbiasa lebih dekat dengan Tuhan, melalui doa dan iman kepercayaan katolik. Misalkan: doa bersama, berdevosi, membaca Kitab Suci, dan buku-buku rohani lainnya. Dengan ini, setiap anak akan termotivasi terus-menerus mengembangkan iman mereka. Keluarga adalah tempat meletakkan dasar-dasar pendidikan. Maka tugas menyelenggarakan pendidikan merupakan tanggung jawab keluarga yang utama. Keluarga mempunyai hak dan kewajiban untuk membentuk anak-anak menjadi pribadi yang dewasa. Di samping itu, sebagai suatu lembaga, keluarga wajib mempersiapkan anak-anak menjadi pribadi yang peduli terhadap masyarakat. Maka keluarga merupakan jembatan antara setiap  anak dan masyarakat. Semua anggota keluarga, masing-masing menurut kemampuan dan kharismanya, mempunyai rahmat dan tanggung jawab untuk membimbing anak-anak. Tetapi pendidik yang paling utama dan pertama bagi anak-anak adalah orang tua. Mereka telah menyalurkan kehidupan baru kepada anak-anak. Maka mereka jugalah yang bertanggung jawab atas pendidikan anak-anak. Mereka mempunyai kewajiban untuk membantu anak-anak agar berkembang sebagai pribadi yang matang.

Unsur paling mendasar yang harus diperhatikan oleh keluarga dalam pendidikan anak adalah cinta kasih orang tua. Cinta kasih itu merupakan sumber, semangat, dan norma yang mengilhami dan mengarahkan iman. Di tengah-tengah kehidupan modern ini, orang tua dituntut untuk menanamkan nilai-nilai dan dasar iman kepada anak-anak. Melalui pendidikan itu hendaknya anak-anak dibantu untuk merasakan cinta kasih Allah, dan dibimbing untuk menanggapinya agar mereka semakin mengenal Kristus. Selain itu mereka perlu dilatih dan dibimbing agar melakukan dan memperjuangkan nilai keadilan dan cinta kasih sejati. Bila diperkaya dengan nilai-nilai tersebut, anak-anak akan mau dan mampu menghormati martabat setiap pribadi dan senang melayani tanpa pamrih.

Belajar dari keluarga Nazareth

Dalam setiap perayaan Natal, kita memperingati kelahiran seorang tokoh besar dalam sejarah, yakni Yesus Kristus yang digelari imanuel (Allah beserta kita). Kita akan melihat peran orang tua Yesus, yang menjaga dan memelihara Yesus hingga wafat-Nya. Yosef dan Maria adalah peengasuh Yesus, mereka harus menjaga dan memelihara Yesus seturut yang dikatakan oleh malaikat Tuhan, bahwa Yesus adalah Mesias, Putra Allah yang akan membebaskan manusia dari dosa. Walaupun mereka sudah tahu bahwa Yesus itu adalah Putra Allah, mereka tetap mendampingi Yesus agar Yesus taat beribadah ke bait Allah (sinagoga). Ini tampak saat Yesus selalu diajak oleh orang tua-Nya pergi ke Yerusalem pada hari raya Paskah(Luk 2:41).

Belajar dari kehidupan keluarga nazareth, keluarga kita harus memiliki hidup keluarga yang harmonis seperti keluarga nazareth. Orang tua harus berusaha mendampingi buah hatinya agar mampu mempertanggungjawabkan iman dalam hidup sehari-hari. Orang tua wajib menghadirkan Kristus kepada anak-anaknya melalui kepercayaan dan iman katolik, menyiapkan segala sesuatu yang perlu agar kualitas iman dalam keluarga terjaga. Jika keluarga tidak memperhatikan hidup iman anak-anaknya, maka kelak si anak akan mudah menyerah pada masalah yang menimpanya, si anak tidak memiliki pondasi yang kuat untuk menjalani hidupnya.

Iman bukan hanya sekedar keyakinan tetapi melebihi keyakinan. Keyakinan dapat memberi rasa aman tapi iman tidak selalu memberi kepastian dan rasa aman, sebaliknya iman akan seringkali memberi tantangan. Dengan iman kita akan selalu dikuatkan, menyandarkan hidup kita pada Kristus, Dialah satu-satunya yang memberi kita pertolongan saat kita goyah. Sebab iman bertujuan untuk membantu anak-anak menemukan jalan hidup dan memperoleh kesuksesan dalam hidup mereka. Imanlah yang menuntun anak-anak memiliki kepekaan dan cepat tanggap terhadap hidup dan lingkungannya. Mari kita memupuk iman bagi keluarga kita.

* Penulis adalah calon imam Keuskupan Agung Medan, Tingkat II

HIDUPKU YANG BERWARNA Oleh : Fr. Virgo Vincentius

 

clip_image002Melalui tulisan ini, saya hendak berbagi pengalaman tentang betapa Tuhan Yesus itu selalu mendampingiku dalam segala perkara hidupku dan dalam hiruk pikuk dunia yang semakin keras ini. Aku adalah seorang calon imam diosesan Palembang. aku anak pertama dari dua bersaudara. Aku sebagai orang yang terpanggil sebagai calon imam, tidak selamanya merasa aman-aman saja atau merasa lurus-lurus saja dalam panggilan hidupku yang kata orang panggilan ini sangat mulia. Tak jarang aku mendapat batu sandungan dalam menapaki jalan panggilanku ini. Berawal dari ketika aku hendak lulus dari seminari menengah, aku dikeluarkan dari seminari menengah karena aku kedapatan membawa HP. Hal ini merupakan suatu pukulan yang berat bagiku dan pukulan itu adalah pukulan yang aku buat sendiri. Betapa tidak? Aku sudah tahu resiko membawa HP adalah keluar! Tapi aku tetap saja nekad membawa HP. Padahal saat itu 2 bulan lagi aku lulus dari seminari menengah. Yahh…ini semua harus aku tanggung. Kata anak-anak muda sekarang itu sih D.L...alias derito loee...

Berikutnya aku menghadap Uskup Keuskupan Agung Palembang untuk meminta kebijaksaan beliau. Akhirnya aku diperkenankan untuk melanjutkan perjalananku sebagai calon imam dioesan palembang dengan syarat bahwa aku harus menjalani hidup di sebuah paroki selama kurang lebih satu tahun. Wahhh... ini salah satu penyertaan Tuhan dalam hidupku, pikirku. Tuhan masih memanggilku dan memberiku kesempatan.

Aku kembali pulang ke rumah sebelum menjalani hidup panggilan di paroki selama kurang lebih satu tahun itu. Kemudian 2 minggu sebelum aku berangkat ke paroki di mana aku tinggal, aku kembali harus menerima kenyataan bahwa pak wo[1] tutup usia. “Ohhh Tuhan,,,cobaan apa lagi ini ?”, keluhku dalam hati. Namun semua itu harus aku ikhlaskan. Aku harus percaya bahwa pak wo pasti bahagia di surga.

Dua minggu sudah pakwo pergi meninggalkan kami. Dan kini pula saatnya aku juga harus pergi meniggalkan keluargaku untuk menjalani panggilanku kembali. Semua semakin terasa berat bagiku. Aku menjadi malas dan tak bergairah lagi untuk menjalani panggilanku. Aku mulai merasa bahwa Tuhan tak lagi sayang denganku. Oh…lagi-lagi mengapa aku harus mengeluh. Mengapa aku harus menyalahkan Tuhan ? Tanda tanya besar, bukan ? Tuhan itu selalu sayang kepada umatnya. Buktinya yaitu kita masih diberi udara segar untuk bernafas hingga saat ini, masih bisa bercanda ria dengan teman-teman atau sanak keluarga kita, masih bisa tersenyum saat matahari terbit, dan lain sebagainya. Bukankah itu sudah menjadi bukti yang lebih dari cukup ? Namun saat itu mungkin aku sedang kalut. Aku tak dapat berpikir jernih saat itu. Hingga pada akhirnya aku menyalahkan Tuhan.

Selama satu tahun berada di paroki untungnya aku dapat menjalani hari-hariku dengan semangat. Melalui Pastor Paroki, Pastor Rekan, dan juga teman-temanku di paroki, aku mendapatkan semangatku kembali untuk menjadi seorang imam. Mari sekarang kita lihat kebelakang sejenak. Apakah kita juga sudah memberi semangat kepada sesama kita ? Atau kita malah menjadi batu sandungan bagi sesama kita untuk berkembang ? Hanya kita dan Tuhan yang tahu.

Sebagai seorang lelaki normal yang tumbuh dewasa, tentunya aku pernah mengalami yang namanya cinta. Saat aku tinggal di paroki selama satu tahun, aku pernah jatuh hati kepada seorang wanita. Pada saat itu aku berpikir bahwa apakah aku salah bila memiliki rasa itu? Namun aku berusaha untuk menetralisir perasaan itu. Aku harus tetap sadar dan ingat bahwa aku ingin jadi imam. Itu berarti bahwa aku harus bisa menjaga rasa itu dan bahkan mengubah rasa itu menjadi rasa seperti yang kuberi pada yang lainnya. Huh…rintangan yang berikutnya ku lalui. Deo gratias. [2]

Akhirnya, aku bisa melewati masa-masa sulitku ketika aku tinggal kurang lebih satu satu tahun di sebuah paroki di Palembang. Kini aku bisa melanjutkan perjalanan panggilanku ke jenjang yang lebih tinggi. Apakah rintangan-rintangan juga akan serta merta berhenti sampai di sini ? Tidak ! Aku sadar bahwa semakin tinggi perjalanan panggilanku, semakin tinggi dan berat juga nantinya cobaan maupun rintangan yang akan bisa menjadi sandungan bagiku.

Aku tak akan pernah bisa sampai pada tingkat saat ini tanpa bantuan orang tua, romo pembimbing, dan juga teman-temanku. Di atas dari semuanya itu aku juga sadar bahwa Tuhan selalu mendampingiku dan membantu dalam setiap pergumulan hidupku. Aku percaya bahwa Tuhan ada di sampingku, menemaniku, menjaga dan menopangku sehingga aku bisa kuat sampai saat ini. Aku percaya juga apa yang telah di katakana oleh seorang romo dalam suratnya kepadaku,” Dia yang memanggil kita, Maha Kuasa dan pasti bertanggungjawab atas orang yang dipanggil-Nya. Deo Gratias. J


[1] Pak wo adalah panggilan untuk kakek (bahasa jawa)

[2] Deo gratias berarti terimakasih Tuhan. (bahasa latin)

* Penulis adalah calon imam Keuskupan Agung Palembang, Tingkat I

Refleksi

 
Setiap hidup tentu mempunyai ceritanya masing-masing. Indah atau buruknya suatu cerita tergantung dari masing-masing individu yang telah membingkai, merencanakan, dan memolesnya. Namun, cerita tersebut akan lebih indah jika direnungkan atau direfleksikan dan kemudia dibagikan kepada sesama. Berikut ini adalah buah-buah refleksi para frater STSP tentang cerita hidupnya masing-masing yang hendak dibagikan kepada para pembaca :
HIDUPKU YANG BERWARNA
Oleh : Fr. Virgo Vincentius
Akhirnya, aku bisa melewati masa-masa sulitku ketika aku tinggal kurang lebih satu satu tahun di sebuah paroki di Palembang. Kini aku bisa melanjutkan perjalanan panggilanku ke jenjang yang lebih tinggi. Apakah rintangan-rintangan juga akan serta merta berhenti sampai di sini ? Tidak ! Aku sadar bahwa semakin tinggi perjalanan panggilanku, semakin tinggi dan berat juga nantinya cobaan maupun rintangan yang akan bisa menjadi sandungan bagiku.
Salib: Cerminan Isi Cinta Allah
Oleh: Fr. Evendi Sihombing
Santo Bonaventura memberi kesaksian demikian: Yesus tersalib dengan menundukkan kepala-Nya, menantikan engkau dan Ia hendak menciummu; Ia merentangkan lengan-Nya karena Ia hendak memelukmu; tubuh-Nya terentang Ia hendak memberi diri-Nya secara total kepadamu; kaki-Nya terpaku di salib Ia hendak terdiam di sana; mata-Nya terbuka karena Ia hendak menyambut kedatanganmu.
Mengalami Salib Tanpa Alasan
Oleh : Fr. Ratno
Ya, uang menjadi salah satu hal yang amat penting dalam hidup ini. Bahkan banyak orang yang berprinsip bahwa segala sesuatu dapat diatur dengan uang. Benarkah demikian? Bagaimana dengan iman kita pada Yesus Kristus, apakah kita mengimani Yesus yang tersalib itu karena semata-mata alasan uang?
Kualitas Iman Tergantung Pada Keluarga
Oleh : Fr. Virgo Barutu
Dalam keluarga saya dapat hidup dalam doa, pengorbanan, kesetiaan dan cinta kasih untuk Tuhan dan sesama sehingga dapat menumbuhkan iman akan Kristus.

















KELUARGA SEBAGAI SEKOLAH PERTAMA DALAM PENDIDIKAN ANAK Oleh : Bosco Lamawuran*

 

clip_image002I. PENDAHULUAN

Berbicara mengenai pendidikan, maka banyak pihak yang berperan di dalamnya. Pendidikan itu merupakan tanggung jawab bersama antara keluarga, masyarakat dan pemerintah. Namuan demikian, dari ketiga lembaga ini, keluargalah yang menjadi lembaga utama dalam pengenalan norma terhadap anak. Selain itu, keluarga juga wajib mengajarkan pendidikan moral yang dapat diartikan sebagai ajaran kesusilaan, tabiat, atau kelakuan.

Apa sih sebenarnya keluarga itu? Keluarga dalam arti sempit (keluarga inti) mencakup suami-istri dengan anak-anak mereka; dalam arti luas mencakup sanak saudara (famili). Keluarga merupakan kesatuan sosial berdasarkan hubungan biologis, ekonomis, emosional dan rohani, yang bertujuan mendidikan dan mendewasakan anak-anak sebagai masyarakat luas maupun terbatas. Dasarnya adalah ikatan perkawinan ayah-ibu. Oleh karena itu, orang tua (keluarga) tidak boleh menganggap bahwa pendidikan anak hanyalah tanggung jawab sekolah, melainkan orangtua/keluargalah sebagai lingkungan pertama dan utama dalam membentuk kepribadian anak. Atau dengan kata lain, orang tualah yang berperan sebagai pendidik utama bagi anak-anaknya.

II. I S I

Rumah Tangga/keluarga adalah sekolah pertama, dan ibu bapa menjadi gurunya. Di dalam keluargalah dimulai pendidikan anak-anak. Bayi yang baru lahir, mempunyai otak yang masih seperti kertas putih yang belum ditulis apa-apa. Kertas putih itu akan segera diisi dengan hal-hal yang mereka lihat, dengar dan alami. Kalau orangtua lalai mengisi otak tersebut dengan ajaran-ajaran baik, mak tidak heran kalau ajaran-ajaran buruk akan masuk. Kepada orang-orang tua, terletak kewajiban memberi petunjuk yang benar kepada anak-anak. Mereka harus dituntun dengan bijaksana, dan lemah-lembut. Kita mengadakan perjanjian dengan Allah untuk mendidik anak-anak yang telah dipercayakan. Memelihara mereka dengan pengaruh-pengaruh yang baik yang akan menuntun mereka memilih suatu cara hidup yang baik, adalah kewajiban orangtua yang umum. Pendidikan dalam keluarga sebelum anak cukup besar untuk disekolahkan, sangat sederhana, tetapi amat penting.

Keluarga mengemban peran kemanusiaan bukan hanya untuk melahirkan keturunan melainkan juga untuk memanusiakan mereka dengan cara mendidik dan membina mereka. Bahkan tugas untuk mendidik anak-anak itu disebut hak natural dari keluarga.

Konsili Vatikan II mengingatkan: “Karena orangtua telah menyalukan kehidupan kepada anak-anak, maka terikat kewajiban amat berat untuk mendidik mereka. Oleh karena itu, orangtualah yang harus diakui sebagai pendidik mereka yang pertama dan utama. Begitu pentinglah tugas mendidik itu, sehingga bila diabaikan, sangat sukar pula dapat dilengkapi. Sebab merupakan kewajiban orangtua: menciptakan lingkup keluarga, yang diliputi semangat bakti kepada Allah dan kasih sayang terhadap sesama sedemikian rupa, sehingga menunjang keutuhan pendidikan pribadi dan sosial anak-anak mereka. Maka keluarga itulah lingkungan pendidikan pertama keutamaan-keutamaan sosial, yang dibutuhkan oleh setiap masyarakat.

Hak dan kewajiban orangtua untuk mendidik anak adalah hakiki, karena berkaitan dengan kelangsungan kehidupan; asli dan pertama, bila dibandingkan dengan lembaga lain dan bila dilihat dari keunikan hubungan orangtua dan anak, maka pendidikan dalam keluarga adalah tidak tergantikan dan tidak tersangkalkan sehingga tidak bisa sepenuhnya didelegasikan kepada atau ditolak oleh orang lain.

Ciri khas pendidikan oleh orangtua ialah dimotivasikan atau didasarkan oleh kasih-sayang orangtua kepada anak-anak. Guru atau siapa pun tidak bisa menggantikan kasih sayang orangtua terhadap darah dagingnya sendiri. Orangtua juga menjadi model, prinsip, pegangan yang memberikan nilai-nilai: kebaikan, keramahan, kesetiaan, pelayanan dan pengorbanan. Nilai-nilai itu hanya bisa ditanamkan lewat pendidikan di dalam keluarga.

Lingkungan keluarga dikatakan sebagai lingkungan yang paling utama dalam pembentukan kepribadian anak, karena sebagian besar kehidupan anak dialami di dalam keluarga. Selain itu juga, bahwa keluarga menjadi agen utama dalam menciptakan kondisi yang ramah bagi penanaman nilai-nilai yang baik bagi anak.

Salah satu problem yang mendasar dalam pendidikan saat ini adalah terkait dengan pendidikan moral. Di zaman yang semakin mengglobal ini, Sering sekali bahwa nilai-nilai moral kemanusiaan diabaikan dalam pergumulan kehidupan sehari-hari. Maka, tidak mengherankan lagi, jika kenakalan anak/remaja, pergaulan bebas, ketidakjujuran, rendahnya belas kasih dan solidaritas, hilangnya budaya sopan santun dan rasa hormat, makin marak terjadi. Lebih parahnya lagi bahwa sering dijumpai kekerasan yang muncul dari kalangan para pelajar. Maka, otomatis bahwa proses pendewasaan diri bagi anak tidak berlangsung secara baik.

Jika kita kaji semua ini dengan baik, maka kemerosotan pendidikan moral anak ini, salah satunya disebabkan karena kurang perhatian/kurang berperannya keluarga dalam pendidikan anak; kurangnya kontrol orang tua terhadap anaknya. Artinya bahwa orang tua harus memahami hakikat dan peran mereka sebagai orang tua dalam membesarkan anak, membekali diri dengan ilmu tentang pola pengasuhan yang tepat, pengetahuan tentang pendidikan yang dijalani anak, dan ilmu tentang perkembangan anak, sehingga tidak salah dalam menerapkan suatu bentuk pola pendidikan terutama dalam pembentukan kepribadian anak. Pendampingan orang tua dalam pendidikan anak diwujudkan dalam suatu cara orang tua mendidik anak. Dengan demikian, maka pendidikkan anak tak dapat lepas dari peran orangtua ataupun keluaraga. Kehidupan dan kepribadian anak akan terasa aman dan nyaman, apabila ia berada dan dididik di tengah keluarganya.

III. PENUTUP

Anak-anak bukan hanya anugerah Tuhan dan buah cinta suami-istri belaka, melainkan adalah juga tugas dan tanggungjawab orangtua untuk mendidiknya. Orangtua perlu mendampingi perkembangan anak-anaknya menapaki tahap-tahap perkembangannya. Maka yang paling penting adalah bagaimana orangtua menempatkan diri untuk memberikan teladan hidup dan tingkah laku yang bijaksana kepada anak. Sebab, lebih sering anak meniru apa yang dilakukan, dari pada apa yang dikatakan. Maka, di sini sangat dibutuhkan cinta dan kasih sayang secara total dari orangtua; pemberian diri dari orangtua untuk mendidik dan menanamkan nilai-nilai moral kepada anak-anak, sehingga anak dapat bertumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang matang dalam tingkahlaku, dan terutama hidup dengan sebuah dasar “iman” yang kokoh. “Iman” dan kepribadian seorang anak menjadi lebih indah dan menyenangkan, jika arah pendidikannya dimulai di dalam keluarga sejak dini.

* Penulis adalah calon imam Keuskupan Pangkalpinang, Tingkat III

KELUARGA: PEWARTA IMAN NOMOR SATU Oleh : Fr. Fabianus Sebatu*

 

clip_image002Pengantar

Paus Benediktus ke XVI menetapkan 11 Oktober 2012-24 Nopember 2013 sebagai tahun iman, Porta Fidei. Porta Fidei memberi kesempatan kepada semua umat beriman katolik untuk menghidupi imannya dalam kata dan perbuatan. Singkatnya, iman harus tampak dalam tindakan kita sehari-hari sehingga kita semakin bertindak seperti Kristus dan dekat dengan Kristus.

Iman mulai dibentuk dan ditanamkan dalam lingkungan keluarga. Setiap orang berasal dari lingkungan keluarga tertentu. Keluarga menjadi tempat seseorang lahir, dipelihara, dibesarkan, dan dididik. Keluarga menjadi ruang lingkup pertama untuk bertumbuh dan berkembang. Kata dan perbuatan,khususnya dari orangtua, sering dilihat anak. Orangtua menjadi dasar pertama dan utama untuk membangun iman anak. Proses pendidikan dalam keluarga -sadar atau tidak- memberi pengaruh yang menentukan dalam pertumbuhan iman seseorang.

Anak dan Orangtua dalam Keluarga

Sebuah keluarga inti terdiri dari bapak, ibu dan anak. Anak hadir ke dunia melalui orangtua. Orangtua menjadi orang terdepan yang paling bertanggung jawab atas kehidupan setiap orang. Satu dari tanggung jawab itu ialah berkenaan dengan pendidikan iman. Orangtua memiliki kewajiban untuk mendidik anak (khususnya tentang iman). Tugas ini merupakan suatu kewajiban yang tidak bisa ditawar-tawar.

Kondisi ini kena pada kita sebagai orang beriman. Ketika masih bayi/anak-anak, kita tabula rasa. Anak-anak itu tulus dan polos. Persis seperti selembar kertas putih yang belum diisi dengan tulisan apapun. Setiap tindakan orangtua dilihat, dicerna dan dikuti oleh seorang anak. Seorang anak tidak mengerti apa-apa tentang iman. Meski demikian, kita tetap dibaptis. Tanggung jawab atas iman anak sepenuhnya diatur oleh orangtua. Inilah metode penanaman iman yang pertama dilakukan.

De facto, ada suatu keprihatinan yang sering muncul dalam lingkungan keluarga. Banyak anak tidak mendapat pendidikan tentang iman. Mereka tidak diajari tentang hal-hal yang berkenaan dengan iman, misalnya tentang doa-doa dasar. Padahal berdoa adalah tindakan yang sungguh melekat dalam diri orang beriman. Orangtua kerap membela diri dengan berbagai kesibukan sehingga tidak sempat mengajarkan iman kepada anaknya. Bahkan mereka sendiri tak punya kesempatan lagi untuk berdoa.

Pentingnya Pengetahuan Praktis tentang Iman

Orangtua sebagai penanggung jawab utama keluarga harus memiliki pengetahuan praktis tentang iman dalam gereja katolik. Pengetahuan praktis itu sangat penting diajarkan kepada anak-anak. Hal-hal praktis itu misalnya tentang bagaimana harus membuat tanda salib, doa Salam Maria, Bapa Kami, Kemuliaan, membaca kitab suci, dll. Doa-doa seperti ini harus dihafal atau diketahui oleh anak-anak. Pengetahuan praktis itu akan mempermudah anak-anak untuk dalam mengaplikasikan dalam kehidupan.

Selain pengetahuan praktis tentang bagaimana harus berdoal, hal-hal umum dalam gereja katolik juga harus diajarkan dalam lingkungan keluarga. Misalnya anak diajarkan tentang siapa itu pastor, suster, frater, paus, uskup, dan sebagainya. Pengetahuan-pengetahuan semacam ini bukan diperoleh dalam lingkungan sekolah tetapi dalam lingkungan keluarga. Sekolah justru harus lebih mengajarkan hal-hal yang jauh lebih maju, misalnya membuat doa spontan.

Beriman Secara Seimbang

Pengetahuan tentang hal-hal praktis berkaitan dengan iman tentu sangat penting. Tetapi itu saja tidak cukup. Kita tentu tidak mau beriman hanya sekedar itu dalam tataran pengetahuan dan berhenti di situ. Iman harus lebih dari sekedar pengetahuan praktis. Bila hanya sekedar pengetahuan, maka kalimat berikut ini tepat dialamatkan kepada kita: “No Action Talk Only” Kalau diterjemahkan “tiada aksi hanya bicara”.

Bila kita beriman hanya pada tataran pengetahuan praktis tentang iman itu sendiri, iman akan menjadi hampa dan tak berarti. Pada akhirnya iman itu menjadi mati. Persis seperti kata Rasul Yakobus “Iman tanpa perbuatan pada hakikatnya mati (Yak 2:14)”. Iman itu harus dihidupi justru dalam kata dan perbuatan sehari-hari.

Kita ingin beriman secara seimbang. Ada porsi yang proporsional antara kata dan perbuatan. Kata dan perbuatan menjadi bukti kita beriman. Beriman berarti percaya penuh kepada Allah. Totalitas itu ditunjukkan dengan tindakan percaya dan dengan bebas menyerahkan diri kepada Allah. Pada tahap kedua, iman berarti menerima dengan akal budi dan kemauan bahwa apa yang diwahyukan Allah itu benar. Kedua pemahaman ini merupakan bentuk dari tanggapan kita atas penyataan diri Allah.

Totalitas penyerahan diri itu tampak dalam kehidupan sehari-hari. Iman sebenarnya adalah soal hubungan personal dengan Allah. Beriman berarti berani berkata YA kepada Allah. Dalam mengatakan YA kepada Allah, berarti kita membiarkan diri sepenuhnya dituntun Allah. Jawaban itu sifatnya sangat personal dan mesti jelas. Kemampuan untuk menjawab penyataan diri Allah itu merupakan anugerah Allah sendiri. Jawaban itu pulalah yang kita hidupi dalam kehidupan sehari-hari, lewat kata dan perbuatan sehari-hari.

Kita beriman dengan sepenuh hati, segenap diri kita. Kita beriman secara total melalui hidup yang kita jalani setiap hari. Hidup menjadi saksi bahwa kita orang beriman. Melalui hidup, iman itu dikenal dan diketahui orang lain sehingga bisa diikuti. Melalui kata dan perbuatan inilah sebenarnya akan dilihat, dicermati dan diikuti oleh orang lain. Yang paling dibutuhkan oleh setiap orang bukan kata-kata tapi aksi nyata.

Mewariskan Iman Melalui Teladan Hidup

Pertama-tama, keluarga merupakan Gereja yang paling kecil tetapi sekaligus mendasar. Dalam lingkungan keluarga perlu ada kebiasaan berdoa, membaca kitab suci, dan lain-lain. Orangtualah yang terlebih dahulu melaksanakan itu melalui kata dan perbuatannya. Ini yang menjadi contoh untuk dipraktikkan oleh anak-anak.

Anak-anak akan dengan sendirinya mendengar kata dan melihat perbuatan orangtua. Orangtua merupakan figur yang paling dekat dengan anak-anak. Anak-anak belum mandiri dan karena itu mereka sepenuhnya menjadi tanggung jawab orangtua. Orangtualah penanggung jawab utama dalam mengajarkan iman kepada anak-anak. Mereka harus mendidik anak dengan penuh cinta. Mereka mengajarkan iman melalui kata dan perbuatannya, singkatnya melalui teladan hidup. Teladan hidup menjadi “senjata” ampuh dalam proses membina dan mendidik iman anak.

Anak-anak lebih membutuhkan bukti yang ditampilkan melalui teladan hidup orangtua sebagai kepala keluarga. Bila orangtua malas datang ke gereja, malas baca Kitab Suci, berdoa, penuh kebencian dan dendam, anak-anak pun kebanyakan akan demikian. Sebaliknya jika orangtua rajin berdoa dan membaca Kitab Suci, anak-anak juga kebanyakan begitu. Maka, orangtua sebagai kepala keluarga perlu mengajak seluruh anggota keluarga dalam rumahnya untuk bersama-sama berdoa kepada Tuhan. Semakin sering kebiasaan ini dibuat, anak-anak akan terbiasa dan menjadi kebiasaannya. Lambat laun kebiasaan ini menjadi bagian yang tak bisa ditinggalkan dari hidupnya.

Penutup

Lingkungan keluarga, khususnya orangtua, memiliki peran yang sangat berpengaruh terhadap iman. Kata dan perbuatan mereka bukan hanya menumbuhkan iman tetapi juga menjadi pewarta iman yang sejati dalam keluarga. Keluarga menjadi pewarta iman nomor satu. Melalui teladan hidup mereka, iman itu sungguh mengalami perkembangan dari waktu ke waktu. Dengan demikian, iman kita tidak mati karena iman sungguh bergema dalam kehidupan sehari-hari.

Melalui iman yang sudah ditanamkan dalam keluarga, kita semakin dekat dengan Kristus bahkan hidup seperti Kristus. Dengan beriman, kita berserah diri sepenuhnya untuk dituntun Allah. Allah menjadi penyelenggara hidup kita setiap waktu. Permenungan dalam Porta Fidei akan membantu kita untuk semakin terpaut dan berserah diri kepada Allah.

* Penulis adalah calon imam Keuskupan Sibolga, Tingkat V

MENCARI ALLAH DI DALAM KEHIDUPAN SEHARI HARI Oleh : Robertus Michael Nopen Saputro*

 

clip_image002Gaya Hidup Santo Fransiska Romana

Fransiska Romana lahir di Roma pada tahun 1384. Setelah ia menginjak usia dewasa, ia menikah dengan seorang bangsawan yang bernama Lorenzo. Ia dikaruniai beberapa orang anak. Kehidupan dalam keluarganya sangatlah bahagia karena mereka menciptakan suasana saling pengertian dan cinta kasih. Hubungan dengan Tuhan ditunjukan melalui doa-doanya. Ia juga sangat memperhatikan suami dan anak-anaknya.

Prisip hidup yang dipegangnya adalah “Seorang istri dan ibu harus meninggalkan Allah di gereja dan mencariNya di dalam urusan-urusan rumah tangga dan pengalaman hidup sehari-hari.” Suaminya sempat disandra, saat terjadi perang di Roma. Akan tetapi, di kemudian hari, ia dibebasakan. Fransiska dikenal sebagai seorang pendoa, seorang mistika abad XV dan model bagi ibu-ibu rumah tangga di Roma. Ia meninggal pada 9 Maret 1440 dan digelari “Kudus” pada tahun 1608.

Santa Fransiska Romana menjadi teladan bagi keluarga untuk menumbuhkan iman dalam keluarga. Kesetiaannya untuk melibatkan di dalam keluarga, membawanya pada penaburan benih iman, kepada keluarganya. Kita, sebagai anggota keluarga, dapat belajar dari Santa Romana untuk melibatkan diri di dalam keluarga.

Doa Bersama di dalam Keluarga

Alberto A. Moi, O.Carm, dalam bukunya tentang Menimba Kekuatan Doa, mengajarkan tentang doa yang efektif. Doa bersama yang efektif dapat menumbuhkan iman, apalagi hal ini terjadi di dalam komunitas kecil atau keluarga. Keluarga memerlukan untuk mengembangkan doa bersama, agar keluarga-keluarga dapat menghaturkan doa kepada Tuhan dengan efektif dan berdaya guna.

Hal praktis dalam doa bersama adalah Pertama, kesadaran bersama. Dalam keluarga yang harmonis, perlu adanya kesadaran bersama. Kesadaran bersama ini perlu dipupuk. Kesadaran ini adalah kesadaran untuk menyatukan parasaan hati, pikiran dan kehendak. Suasana keharmonisan dalam keluarga sangatlah penting. Bagitu juga dengan keharmonisan berdoa dalam keluarga. Mereka perlu menciptakan kesadaran bersama agar doa menjadi efektif dan berdaya guna.

Kedua, menjadi satu dalam doa. Kita membutuhkan persatuan di dalam keluarga. Kesatuan diri dan keterlibatan diri dalam keluarga, menambah keharmonisan dalam keluarga itu sendiri. Kesatuan dalam doa menujukkan kebersamaan dalam satu intensi khusus. Satu intensi ini didoakan secara bersama-sama.

Ketiga, doa untuk seluruh makluk ciptaan. Doa bersama mematahkan keegoisan diri. Doa bersama bukan hannya untuk kepentingan diri sendiri atau kelompoknya sendiri. Doa bersama di dalam keluaga menumbuhkan keprihatinan dan kepedulian terhadap makhluk ciptaan yang ada di alam semesta ini.

Sebagai keluarga sikap saling memperhatikan satu sama lain, sangat diperlukan agar tercipta keluarga yang harmonis. Kita sebagai masyarakat kecil, yaitu keluarga, dapat mengusahakan untuk menumbuhkan iman. Keluarga menjadi komunitas pertama untuk bertolak menuju pertumbuhan iman bahkan dapat mencapai kesuburan. Sebab Ia telah bersabda “Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, -- maka gunung ini akan pindah, dan takkan ada yang mustahil bagimu.”

* Penulis adalah calon imam Keuskupan Tanjungkarang, Tingkat III

Happy Birthday Jesus Oleh : Blasi Doren*

 

clip_image002“Panjang umurnya, panjang umurnya, panjang umurnya serta mulia, serta mulia, serta mulia”. Begitulah seuntaian lagu yang sering saya lantunkan saat merayakan hari ulang tahun teman-teman dan semua anggota komunitas Seminari tinggi St. Petrus.

Sudah menjadi kebiasaan di Seminari Tinggi merayakan hari ulang tahun bersama. Seusai perayaan Ekaristi akan rame orang bersorak-sorai di kamar makan jika waktu itu ada yang berulang tahun. Ritus salam-menyalam pun dijalankan. Bahkan dibebaskan oleh presidium untuk ‘sukacita ria’ dari silentium magnum yang menjadi aturan seminari seusai Ekaristi pagi. Mondar-mandir orang berjalan mengitari si Pestawan. “Yah, begitulah namanya juga pesta ulang tahun. Ini sekali setahun kawan. Kapan lagi kayak gini di sini”, cetusku dari meja makan.

Ulang tahun itu menyenangkan jika dirayakan bersama. Apalagi di sana ada kue ulang tahun beserta lilinnya. Wah, sungguh luar biasa kan? Tapi ingat, yang terpenting bukan kuenya tapi menurutku kebersamaan itulah yang utama. Katanya awal dari keluarga itu ialah kebersamaan. Benar nggak? Jawab sendiri.

Gereja mulai dihiasi dengan berbagai macam bunga. Orang-orang sibuk ke sana ke mari mempersiapkan segalanya. Pagar-pagar diperbaiki dan diberi cat agar kelihatan cantik. Paduan suara dan musik mulai terdengar dari atas loteng gereja. Pokoknya situasi dan lingkungan gereja terpelihara dengan baik. Memang ada apa sebenarnya, ya?

Rupanya itulah yang menjadi kebiasaan di hari Natal. Natal adalah hari kelahiran Yesus. Itu artinya saat itu Yesus merayakan hari ulang tahun-Nya. “Wah, special kali ya ulang tahun Yesus. Saya jadi iri nih”, komentar nalarku. “Yah, kalo iri berarti buatlah seperti Yesus biar dicintai semua orang. Liat tuh, ulang tahun Yesus dirayakan oleh semua orang Kristen di seluruh dunia, sanggah hatiku. “Iya ya”, jawab nalarku. Itulah percakapan singkat antara nalar dan hatiku saat menulis refleksi atas hari ulang tahun.

Sebenarnya yang mau saya sampaikan di sini adalah soal kebersamaan sebagai satu keluarga. Kebersamaan itu bukan sekedar duduk-duduk nongkrong di pinggir jalan terus buat keributan sambil minta duit secara paksa. Kebersamaan juga bukan sekedar cerita-cerita doank tanpa muatan. Bukan ngobrol membahas kejelekan dan keburukan orang lain. Tetapi kebersamaan yang dimaksudkan di sini adalah kebersamaan dalam satu iman, satu keluarga yakni keluarga Kristus.

Rasul Paulus dalam suratnya kepada Jemaat di Filipi 2:1-11 menasihatkan supaya bersatu dalam Kristus. Bersatu dalam Kristus itu berarti satu dalam Kasih, satu jiwa, satu tujuan dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau pujian yang sia-sia (Flp 2:2). Hal ini menunjukkan bahwa kita diajak oleh Paulus untuk selalu bersatu dalam iman, seperasaan dan sepenanggungan. Yesus sendiri pernah bersabda,”Jika dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku hadir” (Mat 18:20). Kehadiran Yesus di tengah-tengah kita membawa sukacita dan damai, bukan pertentangan dan benteng pemisah. Sebab percumalah bagiku hidup bersama namun terdapat jarak di antara kita. Apalah arti hidup berkomunitas itu jika ada jurang yang membatasi?

Yesus lahir sudah biasa, bukan? Semuanya akan menjadi luar biasa jika kita memaknai momen berahmat ini. “Sang Raja Damai”, demikianlah tema Natal yang sering digemakan setiap tahun. Namun apa makna Damai bagiku? Menjadi pembawa damaikah aku?

Seorang gadis cilik berlari dari halaman rumahnya menuju gereja. Ia amat tergesa-gesa. Ada sesuatu yang dibawanya. Namun sepertinya ia sembunyikan dibalik gaun indah yang dibelikan ibunya. Setibanya di gereja ia berdiri sejenak di ambang pintu masuk utama gereja itu. Nafasnya masih terengah-engah. Ia masih terpaku dan terpaku di ambang pintu itu. Entah mengapa ia kelihatan seperti menunggu sesuatu.

Semenit kemudian tangan kanannya memberi perintah untuk membuat tanda di dahi, di dada dan di bagian pundak kedua tangannya. “Dalam nama Bapa, dan Putera dan Roh Kudus, Amin”, suara sayu keluar dari mulutnya. Pada saat yang sama lonceng gereja berbunyi nyaring, bergema berkali-kali. “Glo…oo..oo..ria in ex celsis Deo”, terdengar merdu paduan suara dari anggota koor. Si gadis cilik kemudian berlangkah maju menuju ke suatu tempat di sudut sana dekat altar.

Kini ia mulai meletakan apa yang ia bawa sepanjang perjalanannya tadi. Di samping kanan patung bayi Yesus itulah ia meletakkan secarik kartu ucapan. “Happy Birthday Jesus”, itulah tulisan yang sengaja dibuatnya dengan ukuran font yang lebih besar. Namun ada juga kata-kata lain yang mengitari ucapannya tadi. Demikian bunyinya: “Semoga mama dan papa bisa bersama lagi”.

Setiap orang tentu punya harapan masing-masing. Harapan akan masa depan yang lebih baik. Harapan akan hidup rukun dan damai, hasil panen yang melimpah, gaji yang besar, nilai yang baik, dan lain-lain. Harapan kita itu haruslah selalu tertuju kepada Allah. Hanya Allah yang dapat memenuhi harapan kita. Kita tidak hanya berharap begitu saja. Berharap perlu dibarengi dengan perbuatan. Perbuatan harus disertai dengan iman. Sebab iman tanpa perbuatan menurut Rasul Yakobus adalah mati (Yak 2:20). Saya yakin bahwa kebersamaan dalam iman membuat kita semakin bersatu dalam kasih dan pengharapan.

* Penulis adalah calon imam Keuskupan Agung Medan, Tingkat III

Varia

 
Berpikir kritis tentu boleh saja. Sebagai calon gembala, alangkah baik jika para frater melatih diri untuk belajar berpikir kritis. Mengapa demikian? Seorang gembala dituntut untuk peka dan kritis dalam menenanggapi beraneka macam persoalan dan masalah  para domba dan lingkungannya. Berpikir kritis mengandaikan pikiran yang tenang dan matang. Kebijaksanaan dalam bersikap dan bertutur kata menjadi tujuan final dari cara berpikir kritis. Nah, para frater STSP hendak membagi cara pemikiran mereka dalam melihat permasalahan yang berkutit di dalam lingkungan Gereja atau masyarakat. Bagaimana itu? Bereng ma Lae……
KELUARGA: PEWARTA IMAN NOMOR SATU
Oleh : Fr. Fabianus Sebatu
Melalui iman yang sudah ditanamkan dalam keluarga, kita semakin dekat dengan Kristus bahkan hidup seperti Kristus. Dengan beriman, kita berserah diri sepenuhnya untuk dituntun Allah. Allah menjadi penyelenggara hidup kita setiap waktu. Permenungan dalam Porta Fidei akan membantu kita untuk semakin terpaut dan berserah diri kepada Allah.
Happy Birthday Jesus
Oleh : Blasi Doren
“Panjang umurnya, panjang umurnya, panjang umurnya serta mulia, serta mulia, serta mulia”. Begitulah seuntaian lagu yang sering saya lantunkan saat merayakan hari ulang tahun teman-teman dan semua anggota komunitas Seminari tinggi St. Petrus.
MENCARI ALLAH DI DALAM KEHIDUPAN SEHARI HARI
Oleh : Robertus Michael Nopen Saputro
“Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, -- maka gunung ini akan pindah, dan takkan ada yang mustahil bagimu.”
KELUARGA SEBAGAI SEKOLAH PERTAMA DALAM PENDIDIKAN ANAK
Oleh : Bosco Lamawuran
Apa sih sebenarnya keluarga itu? Keluarga dalam arti sempit (keluarga inti) mencakup suami-istri dengan anak-anak mereka; dalam arti luas mencakup sanak saudara (famili). Keluarga merupakan kesatuan sosial berdasarkan hubungan biologis, ekonomis, emosional dan rohani, yang bertujuan mendidikan dan mendewasakan anak-anak sebagai masyarakat luas maupun terbatas. Dasarnya adalah ikatan perkawinan ayah-ibu.






















Minggu, 17 Maret 2013

Cerpen

 
Iman Tak Akan Pernah Hilang
Oleh : Fr. Lukas Ade Putra Sinaga
Iman yang telah ditanamkan oleh keluarganya (secara khusus ibunya) tidak pernah hilang dan tidak pernah tergantikan. Bentukan iman yang diberikan sejak kecil sangat membantu pertumbuhan Veta dan kemampuannya untuk menjaga diri.
Baca selengkapnya……
“Antara aku dan Dia”
Oleh : Fr. Jonson
Kala itu hujan lebat mengguyur kota dan selokkan-selokkan penuh dengan air dan cuaca begitu mendung sehigga seluruh tubuh terasa dingin sekali. Sudah begitu angin meniup dari arah utara begitu kencang sehingga bumi seakan getar dan dunia kiamat tiba. Aryanti seorang gadis cantik rupanya terlihat bingung dan tidak tahu harus buat apa. Hatinya gelisah tak karuan dan tiba-tiba seorang kakek yang basah kuyup mengetok pintu rumahnya minta tolong agar ia menumpang di rumahnya.
Baca selengkapnya……
SALAHKAH AKU…?
Oleh : Fr. Albertus Irawan Dwi Atmaja
“Setiap orang tentu pernah mengalami rasanya jatuh cinta walaupun kadarnya berbeda. Aku pun pernah. Tetapi aku sadar akan jalan hidupku. Aku dipanggil bukan untuk mencintai satu orang tetapi aku ingin mencintai banyak orang. Aku yakin, banyak teman-temanku mengalami gejolak batin seperti ini. Aku mencoba menawarkan satu alternatif. Tetaplah teguh pada panggilanmu. Coba alihkan cintamu yang bersifat pribadi itu menjadi cinta yang universal. Aku yakin kamu akan memperoleh arti cinta yang sebenarnya.”
Baca selengkapnya……
M I L A
Oleh : Fr. Bosco Lamawuran

Ytc. Mila,
Mila, anakku, ibu sangat mencintaimu. Ibu sungguh menyayangimu. Ibu tahu kalau saat ini hati Mila diliputi duka lara. Tapi ibu berharap agar Mila selalu ceria,
Baca selengkapnya……
Pengorbanan Nenek
Oleh : Fr. Anselmus Efrizal Harris Tampubolon
Aku merasa bersalah kepada kakek dan nenek. Karena perbuatanku nenek menjadi susah. Untuk menyelamatkan nyawaku, nenek rela mengorbankan segalanya. Tuhan, terima kasih atas kakek dan nenekku yang Engkau berikan kepadaku sebagai pengganti ayah dan ibuku. Tuhan aku berjanji untuk tidak membuat nenekku menangis lagi. Aku akan berusaha untuk membuat nenekku bahagia.
Baca selengkapnya……